Memilih bakalan burung perkutut ( bag.2 )

Membedakan antara burung tangkapan dari alam (hasil jaringan) dan hasil
penangkaran cukup mudah. Hasil tangkapandari alam biasanya kakinya tidak
bercincin, sedangkan hasil penangkaran umunya bercincin. Karena harganya murah,
biasanya penjual tidak mau menjamin perkutut tersebut bersuara bagus. Perlu
diketahui, sebelum dimasukkan ranji, pedagang telah menyeleksi burung-burung
tersebut. Burung yang bersuaranya agak bagus biasanya langsung disangkarkan
tersendiri, dan dijual dengan harga lebih tinggi. tidak jarang burung hasil
seleksi tersebut kemudian dipasangi cincin untuk meyakinkan pada calon pembeli
bahwa burung tersebut hasil penangkaran. Untuk itu, sebelum membeli burung
perkutut sebaiknya kita mengetahui beda antara burung lokal dengan hasil
silangan perkutut Bangkok. Bila suara kungnya mantap dan terasa ada tekanan
yang tinggi, burung tersebut merupakan hasil silangan dengan perkutut Bangkok
atau burung Import. kalau Kungnya datar atau ampang, jelas burung tersebut
burung lokal.


Ciri burung lokal lain bila diperhatikan lebih teliti akan semakin tampak.
Misalnya bulu mata agak kasar dan pada bola matanya terlihat seperti ada ring
berwarna putih yang bisa membesar dan mengecil. Mata perkutut lokal agak besar
sedangkan perkutut Bangkok tampak lebih sipit. perkutut lokal biasanya berbadan
kurus sedangkan perkutut bangkok atau hasil silangan biasanya lebih gemuk.
Khusus perkutut lokal asal Nusa Tenggara justru paling mudah dikenali. pelupuk
matanya memiliki ring berwarna kuning, bulu tubuh tampak hijau agak gelap dan
kakinya terlihat lebih hitam.

Hampir semua peternak Lokal maupun Import memberikan cincin pada kaki perkutut
hasil tangkarannya. Hal itu untuk memberikan tanda asal peternakan mana,
kelahiran keberapa, dan keturunan siapa burung tersebut. Dengan demikian, kalau
sewaktu-waktu mau merunut induknya, bisa mengetahuinya dari cincin tersebut.
Bagi peternak lokal, pemberian cincin tidak lepas dari himbauan P3SI (Persatuan
Penggemar Perkutut Seluruh Indonesia) agar ternak lokal memberikan cincin pada
perkutut hasil tangkarannya agar bisa diketahui bahwa perkutut tersebut hasil
tangkaran, bukan hasil tangkapan dari alam. Untuk peternakan besar, biasanya
silsilah sangat diperhatikan. Setiap anakan yang dijual biasanya disertai dengan
Sertifikat.

Cincin tidak menjamin kalau burung tersebut hasil tangkaran peternak. Sekarang
ini banyak pedagang atau bahkan peternak yang mencoba memalsu cincin burung
hasil tangkarannya dengan cincin yang berkode peternakan terkenal yang sering
melahirkan burung juara. Mengetahui begitu berartinya sebuah cincin yang
melingkar dikaki perkutut, sampai-sampai muncul istilah cincin palsu atau jual
beli cincin. Munculnya kasus pemalsuan cincin tersebut tidak lepas dari
keinginan peternak atau pedagang yang ingin meniru kesuksesan peternak lain.
Misalakan saja perkutut milik si A di arena konkurs selalu menyabet juara akan
lumrah bila para penggemar perkutut akan berbondong-bondong ke peternakan A
utnuk memesan saudara atau turunan perkutut yang juara tadi. Karena banyaknya
pesanan, biasanya harga saudara atau turunan perkutut juara tadi akan melambung
tinggi. Tingginya harga perkutut tersebut tidak jarang digunakan aji mumpung
oleh peternak itu. Misalnya ia membeli burung milik peternak lain yang
kualitasnya lebih rendah dan harganya lebih miring, kemudian peternak tersebut
memasang ring atas nama peternakannya agar burung tersebut tampak sebagai hasil
tangkaran peternakannya. burung ini kemudian dijual dengan harga yang tinggi
setaraf dengan keturunan perkutut juara tadi. penggemar perkutut sendiri sulit
membedakan apakh burung tersebut asli anakan dari indukan yang melahirkan
anakan juara atau anakan perkutut lain karena cincin yang terpasang tersebut
asli dari peternakan bersangkutan. Oleh karena itu membeli anakan perkutut
juara, dipeternakan besar perlu hati-hati dan perlu meminta jaminan keaslian
dari peternaknya.

Untuk mengetahui apakah cincin yang melingkar dikaki perkutut asli atau tidak,
tidak terlalu sulit. Kalau asli, cincin tersebut sulit dilepas karena agak
ngepress dengan kaki. kalau burung sudah berusia 1 bulan, cincin asli susah
dilepas. kalau dipaksa dilepas atau dipasang akan membuat burung yang
bersangkutan cedera. Oleh karena itu, pemasangan cincin atau ring asli biasanya
dilakukan sebelum piyik perkutut berumur 15 hari. Lebih dari itu sudah susah
karena jari kaki piyik akan tumbuh membesar secara cepat. Mengingat cincin
tersebut mudah dipesan, belakangan muncul cincin yang berukuran sedikit agak
besar. Cincin semacam inilah biasanya digunakan untuk memalsu burung-burung
kelas bawah agar tampak bagaikan burung kelas atas.

Ukuran cincin yang bisa dibongkar pasang pada kaki perkutut biasanya
berdiameter agak besar, dikenal dengan ukuran 44. Cincin tersebut bisa dikeluar
masukkan pada pergelangan kaki perkutut walaupun burung sudah dewasa. cincin
asli diameternya lebih kecil, dikenal dengan ukuran 41.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *